TAPTENG,WAHANANEWS.CO, Pandan - Sopir angkot di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) mengeluhkan kelangkaan BBM jenis pertalite dalam beberapa hari terakhir. Para sopir terpaksa membeli pertamax, meski membuat pendapatan menurun.
Situmeang (40), salah seorang sopir angkot jurusan Sibolga-Sibabangun mengaku kebingungan akibat kosongnya pertalite di sejumlah SPBU. Pasalnya, para sopir harus merogoh kocek lebih untuk membeli pertamax.
Baca Juga:
Pasokan BBM Macet, Warga Tigalingga Dairi Kesulitan Keluarkan Hasil Tani
"Kalau pertalite cukup Rp80 ribu satu trip. Tapi karena pertamax menjadi Rp100 ribu," keluh Panggabean, Jumat (30/1/2026).
Jika dikalkulasi, sambung Tumeang, untuk beroperasi seharian sopir angkot harus mengeluarkan biaya tambahan untuk BBM sebesar Rp60 ribu. Sementara penghasilan sopir angkot hanya pada kisaran Rp100 ribu hingga 120 ribu.
"Satu harian penuh beroperasi kita dapat 3 trip. Jika dengan pertalite biaya BBM cukup Rp240 ribu. Tapi kalau pakai pertamax harus Rp300 ribu," ujarnya.
Baca Juga:
Pemkab Dairi Adakan Pertemuan dengan Pertamina dan Pengusaha SPBU
Kelangkaan BBM jenis pertalite dalam beberapa hari terakhir juga dikeluhkan Manurung (50). Agar bisa tetap beroperasi, dia terpaksa membeli pertamax.
Walau dengan penumpang yang relatif stabil setiap harinya, pendapatannya sebagai sopir angkot dipastikan menurun, akibat biaya tambah untuk membeli pertamax.
Jikapun ada SPBU yang masih menjual pertalite, antreannya sangat panjang, sehingga butuh waktu yang cukup lama. Menurutnya, mengantre BBM selama berjam-jam akan mempengaruhi pendapatan.
“Kalau harus antre berjam-jam, jelas berpengaruh ke pendapatan. Biasanya kita dapat tiga trip satu hari, dengan antrean yang lama hanya dapat dua trip," ungkapnya.
Dikonfirmasi terkait kelangkaan pertalite tersebut, Manager Pertamina Sales Area Retail Sarudik, Toni Pradana, belum memberikan keterangan.
[Redaktur: Dzulfadli Tambunan]