Saat menyampaikan paparan, Benaya bahkan terharu hingga menangis saat mengangkat kasus seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya karena orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis, pulpen, dan membayar biaya sekolah sebesar Rp1,2 juta per tahun.
"Adik saya harus meregang nyawa akibat ketidakadilan dalam sistem pendidikan. Ini adalah tamparan keras bagi kita semua yang mengaku peduli dengan masa depan bangsa," tegasnya dengan nada penuh emosi.
Baca Juga:
Ibas Soroti Plagiarisme dan Royalti: Penulis Indonesia Butuh Regulasi yang Adil
Turut berpartisipasi dalam diskusi, Direktur Green Justice Indonesia (GJI) Panut Hadisiswoyo mengangkat isu kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai kawasan Indonesia, termasuk di Sumatera Utara khususnya Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
"Tanpa keterlibatan aktif masyarakat, kerusakan lingkungan tidak dapat dicegah. Ekosistem hutan akan terus terancam, alih fungsi lahan akan berlanjut, dan pada akhirnya masyarakat yang akan menjadi korban bencana alam," paparnya.
Sebagai penyelenggara kegiatan, Direktur Utama Indata Komunika Cemerlang Fika Rahma menyebutkan bahwa diskusi berlangsung sangat interaktif dengan partisipan dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga aktivis.
Baca Juga:
Lebih dari Sekedar Penulis, Ini Sederet Skill yang Wajib Dimiliki Copywriter
"Banyak pertanyaan yang mengemuka terkait peran media, keberanian bersuara, serta tantangan dalam menyampaikan kebenaran di tengah tekanan kekuasaan," jelasnya.
Fika berharap acara ini dapat menjadi katalisator bagi terbentuknya ruang diskusi serupa di berbagai daerah untuk memperluas wacana keadilan dan demokrasi di seluruh Indonesia.
[REDAKTUR : JOBBINSON PURBA]