TAPTENG.WAHANANEWS.CO, Badiri - Banjir bandang yang menghantam Desa Lubuk Ampolu, pada Senin (16/2/2026), membuat puluhan rumah roboh dan rusak dihantam kayu gelondongan yang terbawa arus dari hulu sungai.
Sekitar 80 Kepala Keluarga kini mengungsi di salah satu rumah ibadah. Kondisi ini menjadi kelanjutan dari bencana banjir bandang pertama yang melanda kawasan tersebut pada 25 November 2025 lalu.
Baca Juga:
Pemkab Tapin Kolaborasi dengan Ulama dan Tokoh untuk Bersihkan Sungai
"Sudah tiga bulan pasca banjir pertama, desa ini terus berubah akibat dampak air. Aliran sungai yang sekarang melintas bahkan menyeberangi jalan aspal bukan merupakan jalur aslinya, melainkan luapan dari sungai," jelas Tumorang, salah satu warga Desa Lubuk Ampolu.
Menurutnya, arus yang membentuk jalur baru saat hujan deras kemarin membuat warga terpaksa bertarung nyawa.
"Kami bersyukur bisa selamat, tapi kini sangat khawatir karena pemukiman kita langsung berada di jalur sungai yang baru. Bahkan jembatan menghubungkan desa kita dengan Pagaran Honas dan Aek Bottar juga hancur hilang. Sekarang kita hanya bisa menyebrangi dengan kayu titi seadanya," tambahnya.
Baca Juga:
25.518 Korban Banjir Demak Tertahan di Pengungsian Akibat Air Belum Surut
Warga mengaku telah mengajukan permohonan normalisasi sungai sejak kejadian pertama tiga bulan lalu, untuk memitigasi bencana susulan. Namun harapan tersebut tidak pernah terealisasi..
"Kita pernah meminta agar alat berat diturunkan untuk mengeruk sungai, tapi tidak pernah terealisasi. Belakangan memang ada excavator yang datang, tapi terkendala BBM. Seolah-olah penanganannya tidak sungguh-sungguh," ujar warga lainnya dengan nada prihatin.
Nurma (50), seorang ibu rumah tangga yang juga mengungsi, mengajukan panggilan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.