Oleh: Dzulfadli Tambunan
BENCANA hidrometeorologi banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), telah membuat "Negeri Wisata Sejuta Pesona" lumpuh total.
Baca Juga:
Sepekan ke Depan, Indonesia Dibayangi Hujan Ekstrem dan Potensi Banjir
Diperkirakan, di 20 kecamatan terdampak, ratusan nyawa melayang, ribuan warga mengungsi, ribuan rumah hancur, serta ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan rusak tersapu banjir dan longsor. Bencana ekologis ini melumpuhkan perekonomian, merusak infrastruktur, rumah ibadah, gedung sekolah, hingga harta benda.
Tidak berhenti sampai di situ, pasca bencana, hadir persoalan lain yang sangat mengkhawatirkan. Puluhan ribu korban terdampak krisis pangan dan air bersih.
Suplay logistik terhadap warga terdampak masih belum terlihat sama sekali. Dipastikan, akses transportasi yang terputus dan jaringan internet yang menghilang, akan menjadi kambing hitam dalam masalah ini.
Baca Juga:
Siapkan Diri! BMKG: Cuaca Ekstrem Bisa Picu Banjir dan Longsor pada 12-13 Juni
Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, kelaparan dan pandemi akan terjadi. Selain itu, potensi aksi kriminal akan menguat. Warga terdampak akan bereaksi jika sudah menyangkut urusan perut.
Pemerintah harus bergerak cepat mencari solusi di tengah kendala yang ekstra berat. Walau jalur darat sudah dalam kondisi berantakan, Bandara FL Tobing masih berdiri kokoh, siap mengemban misi kemanusiaan.
Disisi lain, PT PLN (Persero) dan PT Telkomsel harus bekerja lebih maksimal, menyalakan listrik yang padam, menghadirkan jaringan internet yang menghilang. Ingat! lima hari sudah Tapteng diselimuti kegelapan dan terisolasi dari daerah luar.**)