Oleh: Rosianna Anugerah Hutabarat
HARI itu langit cerah. Meningkatnya intensitas cahaya matahari di ufuk timur, pertanda siang mulai tiba. Awan berarak perlahan, membiarkan sinar mentari menembus atmosfer bumi. Bayangan akhirnya membias tegak oleh cahaya yang merambat lurus.
Baca Juga:
Operasi Katarak Gratis Tambang Emas Martabe di RSUD Pandan Sukses, 71 Mata Berhasil Dioperasi
Di sebuah desa kecil nan tenang bernama Hapesong Baru, lebih dikenal dengan Desa Sipente oleh warga Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, seorang wanita muda sibuk dengan aktivitas menyadap pohon karet milik tuannya.
Dengan lihai, wanita 30 tahunan itu memainkan pisau sadap, membuat irisan miring pada puluhan atau ratusan kulit batang pohon karet. Satu persatu lapisan kulit luar pohon terlebih dahulu dikupas lalu disayat, getah yang keluar ditampung menggunakan wadah batok kelapa.
Namanya Arnima Gulo, petani karet milenial dan energik yang tak mengenal kata lelah apalagi sifat malas. Meskipun telah berstatus wanita bersuami tak lantas membuatnya berpangku tangan. Prinsipnya, istri adalah penopang ekonomi keluarga.
Baca Juga:
Wakil Bupati Tapteng Dorong Agincourt Resources Lanjutkan Program Kemitraan
Tak ada waktu terbuang. Setiap detik adalah kesempatan meski ia dan suaminya Petrus Gulo, hanya sebagai pekerja di kebun tetangga. Pasutri ini tetap gigih menekuni lakonnya sebagai pejuang nafkah.
Sesekali Arnima berteduh di bawah rindangnya pohon bernama latin hevea brasiliensis itu. Sembari duduk di atas tanah beralaskan dedaunan kering, tubuh kurus miliknya disandarkan pada batang pohon karet.
Angin yang berhembus sepoi-sepoi, mengantarkan aroma latex, amis dan bau menyengat, yang dihindari oleh sebagian orang. Namun baginya, aroma getah adalah aroma kerja keras yang disetiap tetesnya merupakan rezeki yang dinanti untuk masa depan anak-anaknya.