"Kami tidak pernah melihat adanya upaya dari Tim SAR maupun BPBD Tapteng untuk melakukan pencarian. Sudah dua bulan lebih lho. Baru ini upaya pencarian akan dilakukan, itupun karena diinisiasi Camat Sibabangun," kesalnya.
Mendengarkan permohonan dan keinginan keluarga korban, Camat Sibabangun, Romulus Simanullang, berjanji akan segera menindaklanjuti, berkoordinasi dengan Pemkab Tapanuli Tengah maupun Pemkab Tapanuli Selatan.
Baca Juga:
Angin Kencang, Banjir, hingga Karhutla Warnai Dinamika Kebencanaan di Kalimantan
"Rencana pencarian yang akan dilakukan ini sebelumnya telah dikoordinasikan dengan pihak keluarga. Terima kasih atas sarannya, akan kami tidak lanjuti," kata Romulus, yang didampingin perwakilan TNI, Polri, dan BPBD.
Sebagaimana diketahui, akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah akhir November 2025 lalu, 12 warga Kecamatan Sibabangun diyatakan hilang.
Empat korban hilang telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia yakni, Faozaro Zendrato, Rahmat Jaya Zendrato, Marlina Gulo, dan Fatieli Hulu. Korban-korban ini ditemukan pihak keluarga setelah melakukan upaya pencarian.
Baca Juga:
BNPB Catat Banjir dan Cuaca Ekstrem Dominasi Bencana Periode 8–9 Februari 2026
Sementara 8 korban lainnya masih belum ditemukan yakni, Abdul Manan Nasution, Radina Mendrofa, Selvia Zebua, Mitaria Telaumbanua., Johannes Hati Laoli, A Jese Zalukhu, Yostoni Laoli, Yuliadi Telaumbanua, dan Roy Sarma Pane.
Mirisnya, dua bulan lebih pascabencana, upaya pencarian delapan korban yang diduga hanyut di Sungai Garoga ini, tidak pernah dilakukan Tim SAR maupun BPBD Tapteng.
Kondisi ini menimbulkan protes keras dari keluarga korban. Hingga akhirnya, Camat Sibabangun menginisiasi pembentukan tim dari unsur Forkopimka, untuk melakukan pencarian di sepanjang alur Sungai Garoga.