TAPTENG.WAHANANEWS.CO - BADIRI Sebuah harapan baru mulai terbangun bagi masyarakat Desa Lubuk Ampolu dan Pagaran Honas, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Rabu, 3 Juni 2026 pagi ini, digelar acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan 36 unit hunian tetap, hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, Caritas Indonesia, dan Keuskupan Sibolga.
Baca Juga:
Bupati Tapteng Terima Kunjungan Tenaga Ahli BNPB
Proyek ini dibangun di atas lahan seluas 10.000 meter persegi di kawasan Hamente, Lubuk Ampolu, sebagai bentuk pemulihan pascabanjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang melanda wilayah tersebut pada 25 November 2025 lalu. Setiap unit hunian dirancang kokoh dan nyaman dengan luas bangunan 6×6 meter, serta masih dapat dikembangkan di masa mendatang.
Konstruksinya menggunakan material berkualitas: rangka baja ringan, dinding bata ringan tebal 7,5 cm, kusen aluminium, penutup atap Sakura Mix, dan lembaran zicalume anti karat. Setiap rumah juga dilengkapi fasilitas sanitasi dan jamban yang layak.
Baca Juga:
Pemkab Tapteng Siapkan Lahan Pembangunan Huntap Tahap II
Acara peresmian dipimpin langsung oleh Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting.
Turut hadir Dandim 0211/Tapanuli Tengah, Camat Badiri Ahmad Saufi Pasaribu, Kepala Desa Lubuk Ampolu Fijeama Telaumbanua, Kepala Desa Pagaran Honas, perwakilan Keuskupan Sibolga, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang antusias menyaksikan momen bersejarah tersebut.
Dalam sambutannya, Bupati Masinton Pasaribu menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian Caritas Indonesia dan Keuskupan Sibolga.
“Ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan wujud nyata kepedulian kemanusiaan dan kekuatan iman. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung sepenuhnya agar pembangunan berjalan lancar,” ujarnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada TNI, Polri, dan seluruh pihak yang telah membantu masyarakat sejak masa tanggap darurat bencana.
Sementara itu, Kepala Desa dan Camat Badiri menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya.
“Perhatian ini sangat berarti bagi warga kami yang kehilangan tempat tinggal. Semoga kerjasama baik ini terus terjalin,” ujar Camat Ahmad.
Perwakilan warga penerima manfaat, Andrianus Laoli, turut mengungkapkan harapan.
“Kerinduan kami memiliki tempat tinggal yang layak akhirnya terjawab. Kami berharap pemerintah terus mendampingi dan membina 36 kepala keluarga ini agar dapat hidup mandiri dan sejahtera,” katanya mewakili warga.
Dengan estimasi biaya sekitar Rp60 juta per unit, pembangunan hunian tetap ini ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan.
Secara teknis, pengerjaan struktur fisik satu unit rumah diperkirakan memakan waktu sekitar 10 hari hingga tahap penyelesaian akhir.
Proyek ini menjadi langkah nyata pemulihan kehidupan masyarakat menuju masa depan yang lebih aman dan sejahtera.
[REDAKTUR : JOBBINSON PURBA]