TAPTENG.WAHANANEWS.CO - PINANGSORI - Ratusan keluarga penyintas bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah masih bergelut dengan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda pada 25 November 2025 tidak hanya menghancurkan rumah mereka, tetapi juga merenggut sumber mata pencaharian berupa lahan pertanian dan kebun.
Salah satu korban, Tulus Parlindungan Sihombing bersama 46 keluarga lainnya kini tinggal di Huntara Pinangsori, Asrama Haji Pinangsori, Kelurahan Sitonong Bangun, Kecamatan Pinangsori.
Baca Juga:
PCNU Kota Gunungsitoli Terjunkan 18 Relawan Salurkan Bantuan ke Korban Bencana di Sibolga-Tapteng
Awalnya, mereka menginap di tenda pengungsian Kebun Pisang Kecamatan Badiri dengan fasilitas dapur umum yang menyediakan makan tiga kali sehari.
Namun setelah satu bulan, mereka direlokasi dan harus memasak sendiri karena fasilitas tersebut tidak lagi disediakan.
"Dulu saya berdagang hasil kebun warga, kini tak ada yang mau diusahakan karena modal juga tidak ada," ujar Tulus yang kini menganggur karena kebun karet dan tanaman lainnya tertimbun longsor.
Baca Juga:
Pemerintah Kirim Lebih dari 50 Truck Tangki Air Bersih ke Aceh Tamiang
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Kemakmuran Masjid itu tinggal bersama istri dan anaknya di bilik berukuran 4x4 meter yang sekaligus digunakan sebagai kamar dan dapur.
Meskipun bersyukur memiliki tempat berteduh, kondisi ekonomi yang lumpuh membuatnya terpuruk, terutama ketika anaknya meminta uang jajan sekolah.
"Sekedar membeli bahan pangan untuk sahur dan berbuka puasa saja harus berhutang. Entah bagaimana saya nanti melunasinya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca, pada Selasa (3/3/2026).
Keadaan serupa juga dialami warga huntara lainnya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani karet, durian, dan hasil kebun lainnya.
Bantuan pangan dari donatur, jika ada, harus dibagi rata. Jika tidak, mereka hanya bisa bersabar.
Kepada Kepala Desa Pagaran Honas, Herianto, dikonfirmasi bahwa bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI sampai saat ini belum cair. "Iya belum cair ," katanya singkat .
Meskipun pemerintah pusat mengklaim telah melakukan berbagai upaya untuk rekontruksi dan penanganan korban bencana, penanganan ekonomi masyarakat yang lumpuh dinilai lamban.
Kini, selain kesulitan ekonomi, ratusan warga juga menghadapi beban mental dan ketidakpastian masa depan, terutama menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang semakin dekat.
"Kepada bapak Prabowo agar segera memperhatikan kami, jangan sampai kami putus asa karena tidak ada perhatian dari pemerintah pusat," pinta Tulus kepada Presiden RI Prabowo Subianto melalui kabinetnya.
[REDAKTUR : JOBBINSON PURBA]