Namun dalam kasus Tapanuli Tengah, potensi besar yang dimiliki justru belum tergarap maksimal.
Kita tahu, Tapanuli Tengah memiliki garis pantai panjang dengan kekayaan laut melimpah. Sektor perikanan, bila dikelola modern dan berorientasi ekspor, dapat menjadi sumber PAD yang signifikan.
Baca Juga:
Di Balik Terangnya Listrik, Ada Hati yang Peduli: PLN UID Sumut Bantu Korban Banjir Tapanuli Tengah
Selain itu, sektor pariwisata juga menyimpan daya tarik. Pulau Mursala, Pantai Pandan, hingga situs sejarah Barus sebagai pusat peradaban islam dan rempah dunia.
Potensi ini seharusnya bisa diolah menjadi magnet investasi dan penyumbang pajak daerah.
Belum lagi sektor perkebunan dan pertanian yang menjadi tulang punggung masyarakat, tetapi belum diarahkan pada hilirisasi, sehingga nilai tambahnya masih bocor keluar daerah.
Baca Juga:
Hujan Tak Berhenti, Tapanuli Tengah Dikepung Banjir Lagi
Sayangnya, potensi tersebut terbentur pada sejumlah persoalan klasik. Infrastruktur dasar yang terbatas, investasi yang lamban, serta tata kelola pemerintahan yang sering kali tidak efisien.
Jalan-jalan ke sentra produksi banyak yang rusak, pelabuhan dan akses logistik belum modern, listrik dan jaringan komunikasi belum merata.
Kondisi ini membuat investor enggan menanamkan modal. Akibatnya, ekonomi daerah tidak tumbuh optimal dan basis pajak tetap sempit.