“Tantangan terbesar yang dihadapi tidak hanya terletak pada aspek teknologi, melainkan juga pada tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda sebagai garda terdepan dalam menyukseskan transisi energi bersih di Indonesia,” ujar Riki.
Menurutnya, Indonesia masih bergantung pada impor BBM dan LPG fosil. Krisis ini mengancam ketahanan energi dan membebani APBN melalui subsidi.
Baca Juga:
Dari Hati untuk Bumi, Agincourt Resources Rawat Ekosistem Laut dan Pesisir Pantai Tapteng
Oleh karena itu, krisis yang terjadi perlu dihadapi dengan pendekatan yang terukur, dan berfokus pada pencarian solusi yang berkelanjutan.
“Kita harus berubah. Jangan pakai LPG lagi, tapi pakai kompor listrik. Pilah-pilih sampah, apa yang bisa kita gunakan sebagai pembakaran. Hemat energi, matikan listrik apabila tidak diperlukan,” imbuhnya.
Data yang berhasil di himpun, PT Agincourt Resources berkomitmen menyeimbangkan produksi dengan keberlanjutan lingkungan, melalui berbagai langkah efisiensi dan pemanfaatan energi terbarukan.
Baca Juga:
Gema Ramadhan 1447 Hijriah, PT Agincourt Recources Gelar Beragam Lomba Bernuansa Islami
Menerapkan sistem pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 2,0 Megawatt Peak (MWp), dengan konfigurasi on-grid rooftop dipasang di kompleks perumahan karyawan mencakup 42 bangunan.
Tahun 2023, Agincourt Recources juga menggunakan excavator ramah lingkungan Komatsu HB365-1 yang mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 17 persen, dan mengurangi gas buang emisi karbon hingga 13 kg per jam.
Langkah strategis lainnya, tahun 2024, dimana PTAR menggunakan 275.000 unit Renewable Energy Certificate (REC), atau setara 275 Megawatt hour (MWh) listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) dari PLN.