TAPTENG.WAHANANEWS.CO, Sibabangun - Kapolsek Sibabangun, Iptu Toto Catur Wahono, terjun langsung membantu menyeberangkan pengungsi yang harus melintasi Sungai Sibuntuon, untuk kembali ke Desa Sibiobio.
Iptu Toto Catur Wahono menjadi jembatan hidup, dengan menggendong satu per satu anak-anak pengungi di punggungnya, memastikan anak-anak tersebut dapat menyeberang dengan selamat.
Baca Juga:
Aliran Sungai Berpindah Jalur, Pemukiman Warga Lubuk Ampolu Terancam Hilang
Aksi tersebut dilakukan menyusul masih derasnya arus sungai akibat hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Sibabangun sejak Senin (16/2/2026) lalu.
"Kondisi sungainya berbahaya. Kita tidak boleh ragu turun langsung membantu. Ini adalah tugas kemanusiaan dan wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat," kata Totok, di sela-sela menyeberangkan pengungsi, di Desa Muara Sibuntuon, Kamis (19/2/2026).
Selain membantu menyeberangkan, Kapolsek Sibabangun turun ke lapangan guna memastikan kondisi wilayah dan keselamatan pengungsi tetap terjaga.
Baca Juga:
Banjir Bandang Kembali Terjang Desa Lubuk Ampolu, Ribuan Kubik Kayu Gelondongan Jadi Tamu Tak Diundang
Totok menuturkan, Polri akan selalu hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan bantuan, terutama masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Aksi membantu pengungi menyeberangi sungai berarus deras, merupakan wujud respons cepat dan pengabdian dalam situasi darurat. ia menegaskan, polisi harus dapat memastikan keselamatan pengungsi dan anak-anak.
"Kita hadir untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengungsi," imbuhnya.
Iptu Totok menambahkan, pihaknya juga memberikan imbauan kepada pengungsi untuk selalu berhati-hati saat melintasi sungai, dan waspada terhadap cuaca ekstrim yang terjadi kurun waktu belakangan ini.
Sebagaimana diketahui, cuaca ekstrim yang terjadi pada tanggal 16 Februari 2026 lalu, memaksa warga Desa Sibiobio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), kembali mengungsi ke Desa Muara Sibuntuon, yang merupakan desa terdekat.
Ratusan warga mengungsi dengan berjalan kaki, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak diantara warga yang mengungsi merupakan anak-anak.
Pasca banjir, warga berniat kembali ke desa Sibiobio, dengan menyeberangi Sungai Sibuntuon. Langkah ini merupakan satu-satunya cara untuk kembali ke desa, karena jembatan di wilayah tersebut hanyut imbas banjir bandang yang terjadi akhir November 2025 silam.
[Redaktur: Dzulfadli Tambunan]