Mahmud mengungkapkan, Pemkab Tapteng telah menyediakan kendaraan bagi warga pengungsi, sebagai sarana transportasi dari Asrama Haji Pinangsori menuju Desa Lubuk Ampolu dan Desa Pagaran Honas, terutama bagi warga yang ingin melihat kebun atau menjalankan aktivitas pekerjaan sehari-hari.
"Untuk anak-anak pengungsi, sementara waktu proses belajar dilakukan di sekolah terdekat, mulai dari tingkat TK, SD, hingga SMP," timpalnya.
Baca Juga:
Kemenkes Catat ISPA, Hipertensi, dan Diare Dominasi Penyakit Pengungsi di Aceh Tamiang
Pengelola Hunian Sementara dari Yayasan Buddha Tzu Chi, Abu Lim menyampaikan, pembangunan huntap untuk korban bencana ekologis Tapteng terus dikebut. Total huntap yang dibangun di Tapteng sebanyak 118 unit.
Dari jumlah tersebut, sekitar 78 unit telah mencapai progres pembangunan 60 hingga 70 persen. Sedangkan sisanya masih berada pada kisaran 35 hingga 40 persen. Pihaknya menargetkan sekitar 50 unit hunian tetap dapat diserahkan kepada warga sebelum Idul Fitri.
Menurut Abu Lim, pembangunan hunian tetap sebelumnya ditargetkan selesai dalam waktu empat bulan. Namun atas arahan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, proses pembangunan diupayakan dapat selesai lebih cepat.
Baca Juga:
Tim Kesehatan TNI AD Beri Pelayanan Medis dan “Trauma Healing” Bagi Warga Aceh
"Hunian tetap tersebut dibangun dengan ukuran 6 x 6 meter persegi. Diperuntukkan bagi warga terdampak bencana, agar dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan aman," ucapnya.
[Redaktur: Dzulfadli Tambunan]